0 0
Read Time:1 Minute, 38 Second

BOYOLALI | Grow Media Indonesia – Dalam rangka mewujudkan Kabupaten Boyolali bebas stunting, Bupati Boyolali, M. Said Hidayat meminta komitmen semua pihak untuk terlibat dalam menekan stunting di Kota Susu ini. Keberadaan stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek dibanding anak seusianya.

Saat ini, stunting menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali, Jawa Tengah. Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti asupan gizi yang buruk, berkali-kali terserang penyakit infeksi, bayi lahir prematur, serta berat badan lahir rendah (BBLR).

Dalam sambutan pada acara Rembug Stunting yang digelar di Pendopo Gede Kabupaten Boyolali pada Selasa (15/06/2021), Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengatakan menekankan untuk mengatasi kegagalan pertumbuhan tubuh dan otak pada anak.

“Maka langkah ini, saya kira akan menjadikan upaya langkah kebersamaan kita. Ketika bagaimana Boyolali mau dan mampu untuk berkomitmen menurunkan angka-angka persoalan stunting di Kabupaten Boyolali,” ungkap Bupati Said.

Bupati Said juga membacakan Komitmen Bersama Menuju Boyolali Bebas Stunting untuk Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berdaya Saing. Komitmen Bersama itu ditandatangani seluruh pihak yang terlibat.

Adapun isi Komitmen Bersama yaitu: mengawal pelaksanaan delapan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting setiap tahun, mengupayakan peningkatan kualitas layanan intervensi spesifik dan sensitif pada sasaran keluarga 1000 HPK, dan sasaran prioritas penurunan stunting lainnya.

Selanjutnya yaitu mengawal alokasi anggaran di APBD, dana desa atau kelurahan, serta memanfaatkan sumber dana lainnya untuk percepatan pencegahan penanganan stunting. Terakhir berupaya menurunkan angka stunting sebesar tiga persen setiap tahunnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina mengatakan stunting merupakan masalah jangka panjang yang menyangkut masa depan bangsa. Jika hal ini tidak diintervensi sejak awal oleh semua pihak, akan menimbulkan penurunan kualitas generasi penerus bangsa. Terdapat dua intervensi yang dilaksanakan, yaitu intervensi spesifik wilayahnya di jajaran kesehatan dan intervensi sensitif wilayahnya lintas sektor.

Baca Juga :   Asrama Haji Donohudan Boyolali Dialihfungsikan Menjadi RSDC

“Untuk intervensi spesifik, itu daya ungkitnya hanya 30 persen, jadi seberapapun baik program kita, daya ungkitnya hanya 30 persen. Sedangkan kalau yang intervensi secara sensitif, dayang ungkitnya 70 persen,” tegas Survivalina. (NK)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan