0 0
Read Time:2 Minute, 9 Second

MAGELANG | Grow Media Indonesia – Memasuki minggu ketiga Ramadan, warga Dusun Kerten Desa Krincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, Jawa Tengah disibukkan dengan kegiatan membuat kue kering ‘Kereng’. Pesanan kue ini meningkat hampir tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Pada hari biasa, warga membuat hanya 5 kg, namun menjelang lebaran ini bisa meningkat antara 15-20 kg/hari. Mereka mengerjakan kue kereng ini mulai selepas Subuh hingga siang bahkan sore hari. Kemudian dilanjutkan setelah salat Tarawih hingga dini hari.

Bahan dasarnya cukup sederhana, yakni tepung beras ketan, parutan kelapa dan gula pasir, namun tetap dibutuhkan ketelatenan. Kue ini dibuat secara manual dan masih sangat tradisional. Untuk memanggangnya masih menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Hal itu dilakukan karena perapian tungku panasnya lebih maksimal dibanding kompor gas.

Hampir 45 persen warga dusun ini menekuni usaha pembuatan kue sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun temurun. Kue Kereng dibentuk semacam eggroll atau kue semprong. Hanya saja bentuknya lebih besar.

Kepala Dusun Kerten, Ridho menceritakan tidak ada yang tahu pasti, kenapa kue ini dinamakan kereng. Namun diperkirakan karena kue ini dibuat dengan lebih dulu diambil keraknya yang kering, maka dinamakan Kereng atau kerak kering.

“Ini hanya menduga-duga saja atau dihubung-hubungkan. Kita juga tidak tahu pasti kenapa dinamakan Kereng,” kata Ridho di rumahnya, Kamis (29/4/2021).

Ridho mengatakan, Kereng merupakan kue yang khas disajikan setiap lebaran. Rasanya campuran antara gurih dan manis. Gurih yang ditimbulkan dari parutan kelapa dan manis karena ada gula pasirnya.

Prosesnya pembuatannya, tepung ketan dicampur parutan kelapa dan gula pasir. Setelah diaduk, siap dipanggang menggunakan wajan baja atau wajan yang tebal. Cara memanggangnya, satu centong adonan dituangkan ke dalam wajan yang sudah diolesi minyak. Setelah itu adonan dilebarkan atau di ‘letrekke’. Saat melebarkan sambil diulek dengan ulekan yang sudah dibungkus plastik.

Baca Juga :   Siap Laksanakan PTM, Ini Kesanggupan SMK Negeri 1 Salam

Untuk mengulek adonan di atas wajan harus cukup tenaga karena tepung ketan bersifat liat. Setelah bagian bawah menjadi kerak dan tipis, maka adonan yang di atasnya diambil. Kerak ini kemudian digaris-garis sesuai ukuran, dan diambil satu persatu untuk digulung.

Kalau yang sudah terbiasa membuat, saat menggulung tidak perlu menggunakan kaos tangan, karena adonan ini cukup panas. Namun yang tidak tahan panas, mereka memerlukan kaos tangan.

“Berbeda dengan lebaran tahun lalu dimana pesanan hanya sedikit karena dampak dari Covid-19, tahun ini sudah kembali pulih. Pesanan sudah datang sejak sebelum puasa,” kata Sukarti istri Ridho yang juga perajin Kereng.

Pemasaran Kereng tidak hanya sebatas wilayah Magelang, namun juga sampai luar kota seperti DIY, wilayah Kedu, Jakarta bahkan sampai luar Jawa.

“Banyak warga Magelang yang tinggal di perantauan yang rindu dengan kue kering ini,” kata Sukarti. (NK)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan