‘Susuk Wangan’ Tradisi Kearifan Lokal Jelang Masa Tanam

0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

Purbalingga, Jateng | Grow Media Indonesia – Di kalangan masyarakat Jawa tradisi “Susuk Wangan” telah berlangsung ratusan tahun dan hingga sekarang hal itu masih tetap lestari. Umumnya “Susuk Wangan” dilakukan sebelum atau menjelang masa tanam tiba.

Susuk wangan adalah sebuah kegiatan dari para petani untuk membersihkan saluran irigasi dari material yang menghambat aliran air seperti kayu, lumpur dan lain-lain yang dilakukan secara gotong-royong.

Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol Purbalingga Jawa Tengah.

Dikutip dari RRI.co.id, Sabtu (9/1/2021), Karyono selaku Kepala Desa Grantung menyampaikan bahwa sebelum masa tanam tiba para warga di desanya terutama para petani melakukan kegiatan “Susuk Wangan” untuk membersihkan saluran irigasi dari endapan lumpur, batu-batuan atau material lainnya seperti kayu, plastik dan lain-lain agar aliran air tidak terhambat.

Warga Desa Grantung saat melakukan duduk wangan. (Dok. Foto: RRI).

Saluran irigasi yang harus dibersihkan, kata Karyono, panjangnya sekitar 1.200 meter yang mengairi sawah kurang lebih sekitar 126 hektar dan melibatkan kurang lebih 500 orang.

“90 persen lahan di Desa Grantung adalah lahan basah atau sawah yang ditanami padi, dimana sisanya untuk perikanan dan tanaman hortikultura”, ungkap Karyono.

Selain melakukan pembersihan saluran irigasi, warga Desa Grantung juga melakukan penghijauan di sekitar tangkapan air dengan berbagai pohon antara lain pohon Trembesi, Flamboyan, Loa, Kamboja dan Cemara. Dimana pembibitannya dilakukan secara mandiri dan juga bantuan dari dinas terkait.

“Ada kurang lebih 50 pohon Loa yang telah ditanam disekitar tangkapan air. Pohon Loa secara pengakaran lebih baik jika dibandingkan dengan pohon beringin”, kata Karyono.
Selain rimbun, lanjut Karyono, akar pohon Loa juga lebih kuat dibandingkan menggunakan bronjong sebagai pengaman Daerah Aliran Sungai (DAS).

Baca Juga :   Kapolsek Pegandon Laksanakan Monitoring Posko PPKM Mikro

”Tahun lalu kami mendapatkan bibit pohon sebanyak 200 batang, yang telah kami tanam di seluruh lahan di Desa Grantung”, Terang Karyono.

“Namun pada tahun 2019 lalu, ada senderan saluran irigasi yang longsor yang hingga sekarang belum diperbaiki oleh pemerintah dan untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusa tersebut Pemdes Grantung melakukannya dengan cara swadaya yaitu dengan membuat bronjong yang terbuat dari bambu”, kata Karyono.

Dalam usahanya meningkatkan produksi pertanian khususnya padi atau gabah, selama 2 tahun masa kepemimpinan Karyono, telah dilakukan berbagai upaya.
Diantaranya dengan melakukan pemburuan babi hutan, gropyokan tikus dan perbaikan saluran irigasi

“Ada lima permasalahan pertanian yang menjadi prioritas yakni ketersediaan pupuk, pengairan, penanaman serempak, pengadaan peralatan dan pemberantasan hama. Apabila kelima permasalahan dapat diatasi dengan baik maka panen bisa meningkat”, terang Karyono.

Target kami, lanjut Karyono, dari satu hektar lahan sawah bisa menghasilkan 5-6 ton gabah.

“Terkait dengan saluran air yang rusak, Pemdes Grantung memohon dengan sangan dukungan dari Pemkab Purbalingga untuk memperbaikinya”, pungkas Karyono. (Ad17).

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Adang Purnomo

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MANJA SEJAHTERA DATANGI MAKMUR LESTARI

Ming Jan 10 , 2021
Total Pembaca : 3 Menu JELAJAHI Komentar Baca artikel lebih nyaman dan mudah melalui aplikasi Kompas.com DAPATKAN Home News Megapolitan Sriwijaya Air Jatuh di Kepulauan Seribu, Nelayan Dengar Ledakan hingga Temukan Serpihan Minggu, 10 Januari 2021 | 08:08 WIB Komentar Komentar Lihat Foto Flightradar24 Sriwijaya Air penerbangan SJ182 dilaporkan hilang […]