Rizal Ramli Sebut Kebijakan Fiskal Sri Mulyani Amburadul,Cek Sebabnya Disini

Menko Perekonomian era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu mengungkapkan, Sri Mulyani memberikan keuntungan kepada kreditor dengan membuat bunga utang yang cukup tinggi.

1 0
Read Time:1 Minute, 39 Second
Rizal Ramli (sumber : pikiran rakyat)

Jakarta,GMI – Ekonom senior Rizal Ramli menilai, capaian pemerintah dari sisi perekonomian pada tahun 2020 jauh dari kata berhasil. 

Penyebabnya, selain faktor eksternal yang berupa pandemi Covid-19, keterpurukan ekonomi juga tidak lepas dari faktor internal di jajaran kabinet Indonesia Maju. 

Utamanya, menurut Rizal, adalah semrawutnya kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. 

Menko Perekonomian era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu mengungkapkan, Sri Mulyani memberikan keuntungan kepada kreditor dengan membuat bunga utang yang cukup tinggi. 

“Misalnya, di bank ada yang mau pinjam kredit (bunga) pinjamannya 15 persen. Para pengusaha datang ajukan kredit, mereka negosiasi jangan 15 persen, tapi 12-13 persen.”

“Namun ada satu negara yang datang mau bayar bunga 17-18 persen, 2 persen lebih mahal dari pasar selama 10 tahun,” beber Rizal Ramli, Sabtu (26/12/2020). 

Kebijakan utang dengan bunga yang tinggi seperti itu, kata Rizal Ramli, tidak dilakukan oleh negara tetangga Indonesia seperti Singapura hingga Jepang dan China. 

“Karena tidak ada di seluruh dunia menteri keuangan yang pinjam dengan bunga kemahalan,” ujarnya.

“Misalnya menteri keuangan Singapura, Jepang, China kalau pinjam dia tekan semurah mungkin bukan semahal mungkin,” katanya. 

“Jangan main-main. Perbedaan, selisih bunga 2 persen saja selama 10 tahun. Misalnya kita pinjam 10 dolar, dua persennya itu tambahan bunganya itu sepertiganya. Siapa yang bayar? Rakyat kita,” lanjut Rizal. 

Selain itu, Riza Ramli juga melihat kebijakan tax holiday untuk para pengusaha besar justru membuat cekak penerimaan negara Indonesia. 

Sebagai buktinya, tax ratio atau penerimaan pajak di awal tahun 2020 ini realisasinya tidak mencapai lebih dari 10 persen.

Baca Juga :   Grebeg Syawal, Puluhan Warga Laban Ziarah ke Makam Mbah Cowiguna dan Mbah Sakban

Berbeda dengan saat Rizal Ramli menjabat sebagai Menko Perekonomian 20 tahun lalu, yang berhasil merealisasi hingga 11,5 persen dari GDP. 

“Hari ini sebelum krisis (Covid-19) 10 persen. Dengan krisis ini penerimaan pajak bakal lebih anjlok lagi. Bahkan bisa 60-65 persen dari target” kata dia.

“Itu yang menjelaskan kita akan kesulitan cash flow. Penerimaan pajak kita anjlok, besar sekali,” pungkas Rizal.

sumber : tribunnews

About Post Author

redaksi

Buat yang tertarik menjadi bagian dari Grow Media Indonesia hubungi saya.
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

redaksi

Buat yang tertarik menjadi bagian dari Grow Media Indonesia hubungi saya.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketika Pendidikan Masih Dianggap Privilese bagi Perempuan

Ming Des 27 , 2020
Total Pembaca : 1 Pendidikan masih dipandang sebagai privilese bagi sebagian kaum perempuan. Faktor ekonomi, interpretasi agama, konsepsi peran gender yang mengakar dalam budaya, serta mitos-mitos lainnya menjadi penyebab hal tersebut. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada 2016, saat ini rata-rata perempuan hanya mendapat pendidikan sampai kelas dua […]